
Bulatkan tekad
Satukan niat
Rawe-rawe rantas
Malang-malang Tuntas
Mari bersatu untuk INDONESIA
Anosmia adalah keadaan kehilangan atau menurunnya penciuman yang disebabkan oleh gangguan saluran hidung, cedera kepala dan tumor sulkus olfaktorius (misalnya meningioma, glioma frontal). Anosmia sering hilang sendiri meskipun pada kasus-kasus tertentu terjadi secara permanen terutama yang berkaitan dengan penuaan (usia 60 tahun) atau tumor otak. Hilang atau berkurangnya indra penciuman dapat menyebabkan penderita kehilangan minat makan, menyebabkan penurunan berat badan, gizi buruk atau bahkan depresi.
Gejalanya:
Kehilangan penciuman yang bersifat sementara atau permanen.
Cara Perawatannya:
Kehilangan penciuman dapat disembuhkan, tergantung dari penyebabnya. Dokter biasanya memberi antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri, atau menghapus penghalang yang menghalangi saluran hidung. Namun jika kehilangan penciuman itu karena faktor usia, umumnya sulit untuk disembuhkan.
| |
Tugas atau pekerjaan rumah tidak hanya menolong anak belajar mengenai subjek yang dipelajarinya di sekolah, tapi juga merupakan salah satu cara untuk mengembangkan rasa tanggung jawab pada diri anak. Arti- nya, dengan mengerjakan PR, anak jadi belajar bagaimana caranya mengatur dan mengalokasikan waktu untuk suatu tugas dan bagaimana ia harus menyelesaikan tugas tadi dengan rapi serta benar.
Nah, semua hal tersebut merupakan suatu keterampilan yang sangat dibutuhkan anak untuk bekal kehidupan-nya. Lewat PR pula anak akan mendapatkan pengalaman belajar yang lebih positif. Tentu saja, sebagai orpg tua, kita diwajibkan untuk lidak menolong mengerjakan PR dan hanya sebatas menemani serta memberitahu jika ia tak mengerti soal yang diberikan gurunya.
Berikut sejumlah cara yang dapat menolong anak lebih giat, serius, dan teliti mengerjakan tugas-tugas rumah yang diberikan gurunya.
1. Tempat Tenang & Nyaman
Tentukan suatu tempat yang pasti di mana anak dapat mengerjakan PR secara teratur. Tempat ini harus cukup cahaya, terang, nyaman, dan tenang tanpa ada gangguan teve, suara-suara anak bermain, atau orang berbicara/ menelepon. Pendek kata, jauhkan anak dari sumber keributan yang bisa membuat konsentrasinya pecah.
2. Waktu teratur
Pilihlah waktu yang sama setiap hari untuk membuat pekerjaan rumah, Bagi sebagian anak, waktu yang mereka anggap enak adalah sehabis makan sepulang sekolah. Sebagian lagi lebih suka mengerjakan PR setelah main atau istirahat sore. Celakanya, ada juga anak yang malas mengerjakan PR. Untuk mereka, tetapkan aturan, "Tidak boleh nonton teve atau main game di komputer sebelum mengerjakan PR."
3. Pegang Peranan
Biarkan anak memegang peranan untuk membuat "peraturan" berkaitan dengan masalah PR. Beri ia kepercayaan untuk memutuskan kapan dan di ruang mana ia akan mengerjakan tugas rumahnya. Misalnya, ia hanya ingin menyelesaikan PR di meja belajar di kamarnya pada sore hari. Hormati putusan anak. Ini akan amat membantu meminimalkan perselisihan dengan anak gara-gara masalah PR.
4. Kontrol
Biasakan memonitor PR anak. Apakah dia mempunyai masalah saat mengerjakan tugas-tugasnya atau apakah dia mudah sekali jenuh pada waktu mengerjakan PR-nya? Apakah dia mengerti bagaimana cara menger-, jakannya atau apakah PR itu terlalu sulit baginya? Pada waktu dia sedang mengerjakan PR, apakah TV menyala, ada telepon berdering, bercakap-scakap dengan anggota keluarga lainnya, se-hingga konsentrasinya terganggu?
Jika terjadi tanda-tanda seperti di alas, sebaiknya bantu anak mengatasi masalah-masalah tadi. Matikan teve, tidak membuat PR dekak meja telepon, jangan biarkan sang kakak atau adik mengajaknya ngobrol sebelum PR selesai dikerjakan
5. Jangan Pernah Membuatkan PR Anak
Memang sangat disarankan para orang tua menemani anak membuat PR dan membantunya jika ia memerlukan pertolongan. Tapi tidak berarti Anda boleh membantu membuatkan tugas-tugasnya. Sekali-sekali Anda boleh membantu menjelaskan bagaimana cara membuat tugas tersebut, tapi ingat, biarkan anak mencoba terlebih dahulu sebelum menawarkan bantuan padanya.
Membuatkan PR anak bukanlah tindakan bijaksana. Selain anak tidak dilatih untuk bertanggungjawab, ia juga kehilangan kesempatan untuk memahami / mendalami mata pelajaran yang diberikan guru karena salah satu tujuan
6. Reaksi Positif
Dampingi anak saat ia tengah mengerjakan PR-nya. Anda bisa sambil membaca buku/koran atau melakukan kegiatan lain tapi tidak sambil menonton teve atau menelepon. Sesekali lihat pekerjaan anak. Jika ia telah mengerjakan dengan betul dan baik, pujilah dia. Sebaliknya, jika anak melakukan kesalahan, jangan mengkritiknya. Tanyakan kesulitan yang dihadapinya, terangkan, dan bantu ia mengoreksi kesalahannya. Sekali lagi, bukan berarti Anda memberitahu jawabannya, melainkan membantu memecahkan masalah dengan cara menerangkan atau memberikan rumus-rumusnva.